Sabtu, 12 Januari 2019

Penerimaan Mahasiswa Baru STIKES Delima Persada Gresik


Kandungan Vitamin C

     Setelah disebutkan pada artikel sebelumnya, vitamin C tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh manusia sehingga kita harus mendapatkannya dari luar, salah satunya dari buah. Vitamin C memiliki banyak manfaat termasuk antioksidan, anti-penuaan, dan dibutuhkan untuk membantu dalam beraktivitas seperti olah raga atau belajar.
Vitamin C pada umumnya identik dengan buah jeruk, tapi ternyata banyak buah lain yang kandungan vitamin C nya yang lebih banyak.

Kemudian buah-buah asam lainnya seperti nanas ternyata kandungan vitaminnya jauh dibawah buah-buah manis seperti kelengkeng, jambu, atau leci.

Berdasarkan The Natural Food Hub, inilah daftar kandungan vitamin C tiap 100 gram buah dan vitamin C pada setiap potongan buah. 
Ringkasan
Inilah adalah persen Angka Kecukupan Gizi (%AKG) vitamin C pada buah yang sering kita jumpai.
Catatan : Kandungan vitamin C belum tentu sama walau pada buah yang sama, karena pengaruh proses pertumbuhan, kondisi tanaman dan sebagainya.

Kelemahan dan Keuntungan Obat Herbal

Pengertian Obat Herbal.


Herbal adalah tanaman atau tumbuhan yang mempunyai kegunaan atau nilai lebih dalam pengobatan. Dengan kata lain, semua jenis tanaman yang mengandung bahan atau zat aktif yang berguna untuk pengobatan bisa digolongkan sebagai herbal. Herbal kadang disebut juga sebagai tanaman obat, sehingga dalam perkembangannya dimasukkan sebagai salah satu bentuk pengobatan alternatif. 


Obat herbal adalah obat yang bersifat organik atau alami, sama seperti tubuh kita. Obat herbal murni diambil dari saripati tumbuhan yang mempunyai manfaat untuk pengobatan, tanpa ada campuran bahan kimia buatan (sintetis) dan tanpa campuran hewan. Obat Herbal harus berasal dari tumbuhan (nabati) misalnya jahe, temulawak, kunyit, bawang putih, ginseng dan lain-lain. Jika suatu obat telah mengandung hewan maka ia tidak dapat disebut sebagai herbal lagi, melainkan masuk dalam katagori Obat Tradisional / Jamu yang masih dapat bercampur dengan bahan-bahan yang berasal dari hewan seperti telur atau tripang.

Secara umum, pengertian dari obat herbal adalah obat  yang berasal dari seluruh atau sebagian dari tumbuh-tumbuhannya. Namun sebenarnya, istilah herbal ini memiliki arti tumbuh-tumbuhan yang tidak berkayu atau tanaman yang bersifat perdu. Obat herbal juga disebut sebagai phytomedicine atau obat botani. Pengguanaan obat herbal telah dikenal dan banyak digunakan sejak zaman dahulu, karena memiliki khasiat yang manjur dan ampuh.

            Obat herbal diolah secara tradisional dan turun-menurun, berdasarkan resep nenek moyang, adat istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan setempat, baik secara magic maupun pengetahuan tradisional. Pada masa kini, para ahli mulai tertari dengan penggunaan obat herbal karena efek samping yang ditimbulkan minimal. Hal tersebut dikarenakan komposisi di dalamnya masih dapat dicerna oleh tubuh. Obat herbal juga popular dikalangan masyarakat karena lebih mudah dijangkau, baik harga maupun ketersediaannya.

Pada jaman sekarang, dengan berkembangnya teknologi kedokteran yang semakin pesat dan banyaknya riset penelitian berkaitan dengan obat-obatan, maka semakin membuka mata kita bahwa ternyata alam secara alami telah menyediakan obat yang berkhasiat untuk berbagai penyakit (sesuai dengan khasiat tanaman obat yang dikenal secara empiris atau secara penelitian). Di Indonesia yang kekayaan hayatinya berlimpah ruah, obat-obatan herbal tidaklah sulit dicari. Walaupun umumnya obat berbahan dasar herbal tidak menimbulkan efek samping negatif, namun ada beberapa bahan yang menimbulkan efek samping negatif. Pengobatan herbal lebih dipercaya oleh kebanyakan orang Indonesia karena penggunaan obat kimia sintetis, lambat laun dapat menimbulkan efek samping pada tubuh manusia.

Banyak jenis obat herbal, mulai dari herbal untuk perawatan kecantikan, perawatan kesehatan, herbal untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, hingga herbal untuk pengobatan penyakit-penyakit khusus.

Konsep Pengobatan Herbal.

Pendekatan yang dipakai bersifat holistic. Tubuh manusia dipandang memiliki suatu system harmoni yang selalu seimbang. Tidak berfungsinya satu bagian tubuh yang lain. Jika tubuh tidak mampu melakukan penyeimbangan kembali seperti keadaan semula, maka akan timbul suatu penyakit. Salah satu tujuan dari pengobatan herbal adalah membantu tubuh mengembalikan keharmonisan atau keseimbangan tubuh.
Selain dari factor eksternal, pengobatan herbal memahami bahwa dari manusia terdapat kekuatan penyembuh yang dating dari factor spiritual, emosional, mental, dan fisikal. Kekuatan penyembuh tersebut dalam dunia medis modern dikenal dengan system imun.
Mengguanakn semurni-murninya bahan dari herbal sebagai obat, tanpa tambahan zat kimia sintetis.

Konsep pengobatan herbal sangat berbeda dengan konsep pengobatan modern (yang biasanya menggunakan kimia sintetis sebagai obat). Misalnya dalam pengobatan kimia sintetis penyebab penyakit adalah virus, bakteri, dan pathogen (mikro organism pembawa penyakit); sedangkan dalam pengobatan herbal, pemyebab penyakit adalah lemahnya system imun.

Kelemahan Penggunaan Obat Herbal.


            Penggunaan obat herbal sangat popular di masyarakat, dikarenakan obat-obatan herbal tersedian di sekitar kita dan lebih ekonomis. Selain itu, penggunaan obat herbal memberikan manfaat yang belum tentu diperoleh dari penggunaan obat-obat kimiawi. Berikut kelebihan dari obat herbal, anata lain:
  • Menggunakan bahan alamiah/organic.
  • Kandungannya lebih banyak diserap tubuh daripada sintetis.
  • Meningkatkan system imun.
  • Holistic/mengobati sumber penyakit.
  • Minim efek samping jika digunakan dengan benar.
  • Halal karena murni dari tumbuhan.

Pembuatan Sediaan Herbal.


Dalam membuat sediaan herbal terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan karena sangat berpengaruh terhadap khasiat dan keamanan pengguanaan sediaan herbal tersebut untuk pengobatan. Adapun dua hal yang perlu diperhatikan adalah:

1.      Kebenaran Bahan
Sebelum mengguanakan sediaan herbal sebagai obat, harus dipastikan bahwa tidak menggunakan bahan tanaman yang salah. Menggunakan bahan herbal yang dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan atau keracunan.

2.      Peralatan
Peralatan panic/wadah yang digunakan sebaiknya dari bahan gelas/kaca atau stainless steel. Pisau atau pengaduk yang digunakan terbuat dari kayu atau baja. Sedangkan saringan yang digunakan adalah dari bahan plastic atau nilon. Jangan mengguanakan bahan dari aluminium karena dapat  bereaksi dengan kandungan kimia tertentu dari tanaman yang mungkin  bisa menyebabkan keracunan.

Keuntungan Menggunakan Obat Herbal.
Pengobatan menggunakan tumbuh-tumbuhan telah lama ada dalam peradaban manusia dan diwariskan secara turun-temurun. Keampuhannya dalam mengobati penyakit tidak diragukan lagi oleh dunia kedokteran modern. Berbagai jenis penyakit yang sudah tidak dapat disembuhkan melalui pengobatan modern, ternyata bisa diatasi dengan pengobatan alami, seperti penyakit darah tinggi, gangguan saraf, diabetes, dan jantung. Efek sampingnya yang minimal menjadi nilai tambah. Beberapa pasien memang ada yang mengalami efek samping setelah menggunakan obat herbal, tapi hal itu lebih dikarenakan pasien tersebut memiliki alergi terhadap zat yang terkandung dalam obat herbal tersebut.

Berikut ini beberapa keuntungan menggunakan Obat Herbal jika dibandingkan dengan obat modern:
  • Efek samping sangat kecil karena berasal dari sumber alami.
  • Menghilangkan akar penyakit. Efek obat herbal bersifat menyeluruh, sehingga tidak hanya mengobati penyakit tapi juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit.
  • Bahan-bahannya mudah didapat. Tanaman obat herbal banyak ditemukan disekitar kita dan dapat dengan mudah dibudidayakan.
  • Bebas dari racun/toksin. Obat herbal mengandung zat anti racun dan memiliki kemampuan mengeluarkan racun dari dalam tubuh.
  • Bahan mudah diolah. Tidak perlu teknologi tinggi untuk mengolah obat herbal. Sangat sederhana.
  • Bisa mengobati banyak penyakit secara bersamaan. Obat herbal tidak hanya berkhasiat menyembuhkan satu penyakit, tetapi dapat digunakan untuk pengobatan lebih dari satu penyakit.

Penggunaan Obat Herbal Dalam Pengobatan Modern.

Sebelumnya, pengobatan menggunakan bahan alami ini hanya dianggap sebagai pelengkap bagi pengobatan medis. Hanya masyarakat menengah ke bawah yang sering melakukan pengobatan alternatif ini. Tapi seiring waktu, pengobatan herbal kini dilirik oleh pengobatan modern sebagai pengobatan alternatif karena handal dalam mengobati berbagai jenis penyakit dengan menggunakan bahan-bahan alami. Kelebihan penggunaan bahan alami adalah tidak adanya efek samping seperti halnya obat modern yang serba sintetis dan kimiawi. Kelebihan lainnya adalah, obat alami tetap bisa dikonsumsi sementara kita mengkonsumsi obat modern, namun harus melalui persetujuan dan pengawasan dokter yang mengetahui persis penyakit yang kita derita.

Penggunaan pengobatan modern secara bersamaan dengan obat herbal dinamakan herbal medik. Pengobatan secara herbal medik harus melalui kajian ilmiah. 



Berikut ini beberapa keuntungan herbal medik:
  • Memelihara kebugaran dan juga kecantikan tubuh.
  • Meningkatkan daya konsentrasi.
  • Meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.
  • Mempercepat penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
  • Membantu program diet baik untuk melangsingkan atau menggemukkan tubuh.
  • Menunjang pengobatan terhadap penyakit.

Konsumsi Obat Herbal Secara Tepat.

Respon tiap individu terhadap obat herbal berbeda satu sama lain. Oleh karena itu obat herbal tidak dapat diminum sembarangan. Kendati memiliki gangguan kesehatan yang sama, belum tentu herbal yang diberikan akan cocok bagi satu penderita dengan penderita lainnya.
Konsumsi obat herbal sedapat mungkin tidak dikombinasikan dengan obat kimia sintetis karena dapat menyebabkan interaksi kimia yang tidak diinginkan. Berikut ini beberapa interaksi yang mungkin terjadi jika menggunakan obat herbal bersamaan dengan obat kimia sintetis:
  • Menyebabkan resistensi obat terhadap tubuh atau dengan kata lain tubuh menjadi kebal terhadap obat yang kita minum.
  • Mengurangi efek terapi obat yang berakibat kegagalan dalam pengobatan.
  • Mengubah proses kerja obat yang bisa mengakibatkan komplikasi penyakit yang tidak terduga.
  • Mengurangi efek obat, yang jika dosisnya ditambah justru mengakibatkan overdosis

Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Kesehatan merupakan hal yang sangat penting agar manusia dapat bertahan hidup dan melakukan aktivitas. Pentingnya kesehatan ini mendorong pemerintah untuk mendirikan layanan kesehatan, agar masyarakat dapat mengakses kebutuhan kesehatan. Layanan kesehatan salah satu jenis layanan publik merupakan ujung tombak dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Pemerintah mendirikan lembaga kesehatan seperti Puskesmas, Rumah Sakit Umum Daerah dan Rumah Sakit Umum Pusat. Lembaga kesehatan yang sering diakses oleh masyarakat adalah Puskesmas. Keterbatasan fasilitas yang ada pada puskesmas, membuat masyarakat memilih rumah sakit umum daerah menjadi rujukan untuk mengakses layanan kesehatan. Rumah sakit merupakan suatu unit usaha jasa yang memberikan jasa pelayanan sosial dibidang medis klinis. Rumah sakit adalah tempat untuk melakukan upaya meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan. Pengelolaan unit usaha rumah sakit memiliki keunikan tersendiri karena selain sebagai unit bisnis, usaha rumah sakit juga memiliki misi sosial yang berperan penting dalam hal kesehatan masyarakat. Hakikat dasar dari rumah sakit adalah pemenuhan kebutuhan dan tuntutan pasien yang mengharapkan penyelesaian masalah kesehatannya pada rumah sakit. Pasien memandang bahwa hanya rumah sakit yang mampu 1 memberikan pelayanan medis sebagai upaya penyembuhan dan pemulihan atas rasa sakit yang dideritanya, untuk itu rumah sakit pada umumnya harus memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar yang ditetapkan dan dapat menjangkau seluruh masyarakat. Masyarakat yang menggunakan layanan kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Puwokerto tidak hanya berasal dari daerah sekitar namun berasal dari daerah lain. Gambar di bawah ini menunjukkan cakupan pelayanan kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto berdasarkan wilayah rujukan: Gambar 1. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr.Margono Soekarjo Purwokerto Sumber: Profil RSMS 2011 Berdasarkan data yang dimiliki oleh Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto cakupan wilayah pelayanan kesehatan tidak hanya berasal dari daerah di Purwokerto tetapi juga mencakup Banjarnegara, Cilacap, Purbalingga, Banyumas dan lain-lain. Banyumas 65% 11% 3% 12% 9% Data Cakupan Layanan Kesehatan Banyumas Cilacap Banjarnegara Purbalingga Lain-lain menduduki persentase terbanyak yaitu 65 %, kemudian Purbalingga 12%, Cilacap 11%, Banjarnegara 3%. Wilayah yang lain seperti Brebes, Tegal, Pekalongan, Pemalang, Wonosobo bahkan Purworejo mencapai 9%. Hal ini menunjukan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Kepercayaan dari masyarakat ini seharusnya menjadi acuan bagi pihak rumah sakit untuk memberikan pelayanan yang optimal bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang dari masyarakat yang ada. Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto merupakan instansi milik pemerintah daerah Purwokerto yang memberikan layanan kesehatan untuk masyarakat luas. Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto adalah bagian yang amat penting dari suatu sistem kesehatan. Pada jejaring kerja, pelayanan kesehatan rumah sakit ini menjadi simpul utama yang berfungsi sebagai pusat rujukan puskesmas maupun rumah sakit lain, dan merupakan rumah sakit terbesar di Purwokerto. Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto menurut Peraturan Daerah (perda) No. 8 tahun 2008 tersebut disebutkan bahwa Rumah Sakit Umum Daerah yang selanjutnya disebut RSUD adalah lembaga teknis daerah yang merupakan unsur pendukung tugas Pemerintah Daerah di bidang pelayanan Rumah Sakit yang masing-masing dipimpin oleh seorang direktur yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. RSUD dapat dibentuk komite-komite, instalasi dan satuan pengawas intern yang pengaturannya ditetapkan dengan keputusan Direktur untuk menunjang pengelolaan rumah sakit. Tugas rumah sakit adalah memberikan layanan kesehatan yang sama bagi seluruh masyarakat. Layanan kesehatan yang tersedia pada rumah sakit meliputi rawat jalan, rawat inap, dan penunjang medis. Rawat jalan meliputi poliklinik yang terspesialisasi pada bidang kesehatan tertentu. Layanan penunjang medis berfungsi untuk membantu dan melengkapi layanan kesehatan yang ada, layanan rawat inap merupakan kelompok pelayanan kesehatan yang terdapat di rumah sakit yang merupakan gabungan dari beberapa fungsi pelayanan. Layanan rawat inap diberikan kepada pasien yang memerlukan perawatan intensif atau observasi ketat karena penyakitnya. Layanan rawat inap ini terbagi menjadi beberapa kelas. Pembagian ruangan dalam layanan rawat inap berdasarkan penyakit yang diderita pasien, motivasi pasien, serta kemampuan pasien untuk memilih kelas dalam rawat inap. Rumah sakit pada dasarnya harus memberikan layanan rawat inap yang merata bagi masyarakat yang tidak menjadikan alasan finansial untuk membagi pasien dalam kelas tertentu. Bahkan, jika seorang pasien ingin menghentikan pengobatan pada rawat inap karena faktor keuangan pihak rumah sakit juga memiliki kewajiban untuk menjelaskan tentang hak pasien untuk mendapatkan jaminan dari pemerintah. Terlebih masyarakat kelas menengah ke bawah yang sangat sedikit mendapat informasi mengenai hakhak yang dimiliki ketika menjadi pasien. Pelayanan rawat inap yang diberikan kepada pasien menimbulkan persepsi dari pasien itu sendiri. Pasien berpersepsi sebelum mereka melakukan rawat inap, bahkan setelah menjalani rawat inap. Persepsi pasien sebelum menjalani rawat inap adalah pandangan mereka terhadap pelayanan yang ada selama ini. Persepsi ini dapat berubah ketika layanan yang diterima pasien tidak sesuai dengan harapan dan keinginan pasien. Masing-masing persepsi pasien yang menempati rawat inap berbeda-beda bergantung pada faktor internal dan eksternal yang dimiliki oleh pasien. Berdasarkan uraian mengenai layanan kesehatan pada Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto yang terjadi pada layanan rawat inap maka perlu untuk mengetahui lebih lanjut. Bagaimanakah persepsi pasien terhadap layanan rawat inap yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo. Permasalahan ini menarik penulis untuk melakukan penelitian dengan fokus Persepsi Pasien Terhadap Layanan Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto, Jawa Tengah. B. Identifikasi Masalah Sehubungan dengan uraian latar belakang masalah di atas yang mendasari penelitian ini, maka masalah-masalah yang ada dapat diidentifikasi sebagai berikut : 1. Kurangnya upaya dari Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto untuk memberikan layanan rawat inap yang berkualitas. 2. Adanya beberapa kelas yang berbeda dalam pemberian layanan rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. 3. Belum adanya upaya dari petugas di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dalam memberikan respon yang cepat ketika memberikan pelayanan kesehatan di rawat inap. 4. Adanya pemilihan kelas rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto yang berdasarkan motivasi dan kemampuan pasien. 5. Luasnya cakupan wilayah pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Penelitian ini dibatasi pada persepsi layanan rawat inap yang di dalamnya terdapat pembagian pasien pada kelas-kelas tertentu. Hal tersebut diterapkan dengan kondisi layanan rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. C. Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah melalui beberapa uraian di atas, maka dalam hal ini permasalahan yang dikaji perlu dibatasi. Pembatasan masalah ini bertujuan untuk memfokuskan perhatian pada penelitian agar diperoleh kesimpulan yang benar dan mendalam pada aspek yang diteliti. Cakupan masalah dibatasi pada persepsi pasien, pembedaan yang terjadi dalam layanan rawat inap, faktor pendukung dan penghambat, serta dampak layanan rawat inap. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimana persepsi pasien terhadap layanan rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto, Jawa Tengah? 2. Bagaimana layanan rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto, Jawa Tengah? E. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah penelitian ini, maka dapat dirumuskan tujuan penelitian ini adalah 1. Mengetahui persepsi pasien terhadap layanan rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto, Jawa Tengah. 2. Mengetahui layanan rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto, Jawa Tengah. F. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari adanya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi peneliti Dapat menambah wawasan maupun pengetahuan baru tentang layanan kesehatan, terutama pada layanan rawat inap dalam masyarakat terutama yang terjadi pada rumah sakit. 2. Pembaca Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah pengetahuan pembaca tentang seluk beluk dunia penelitian khususnya tentang persepsi masyarakat dan stratifikasi sosial. 3. Penelitian berikutnya Hasil penelitian dapat menjadi masukan sebagai bahan informasi bagi penelitian sejenis, bagi peneliti-peneliti lain untuk mengadakan penelitian serupa dimasa yang akan datang. Khususnya dalam kontribusi pengembangan ilmu Sosiologi. 4. Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan evaluasi dan referensi terhadap pelaksanaan pelayanan rawat inap dan diharapkan berguna sebagai masukan bagi pihak rumah sakit dan pihak yang berkepentingan untuk perkembangan dan kemajuan pelaksanaan layanan rawat inap.

Makalah Galenika

MAKALAH
GALENIKA 
Dosen Pengampu : 
Nur Cahyadi, S.ST, MM.
Oleh : 
Akn Azizatul Maghfirah
NIM :
PROGRAM STUDI D3 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DELIMA PERSADA
GRESIK
2018 
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka  penulis dapat menyelesaikan penyusunan 
makalah yang berjudul “ GALENIKA”.
 Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.  Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat  bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
 Ibu bidang studi GALENIKA yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini. 
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amiin. 
30, Oktober 2018
Penyusun 
BAB I 
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kita semua telah mengetahui bahwa alam indonesia memang terkenal dengan kekayaan hayati dan hewaninya yang sangat memungkinnya sebagai bahan dasar obat alami .Bumi Indonesia menurut dunia pewayangan dikenal sebagai bumi yanggemah ripah loh jinawi lan thukul kang sarwo tinandur. Banyak tanaman obatyang hidup liar di hutan dan di lautan belum dijamah oleh tangan manusia demikesejahteraan bangsa. Sebagian memang telah dimanfaatkan dan dibudidayakanserta diteliti secara mendalam oleh para ilmuwan.

Read More
Sejak lama masyarakat telah mengenal dan memanfaatkan obat-obat
alamiah yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, hewan, dan mineral. Mereka
meramu dan meraciknya sendiri atas dasar pengalaman yang diwariskan secara
turun-temurun oleh generasi sebelumnya.
Namun banyak dari kita, orang indonesia yang tidak tahu bagaimana cara mengolah kekayaan hayati dan hewani tersebut menjadi suatu bahan obat yang bisa memberi manfaat yang sangat baik dalam menyembuhkan penyakitbahkan khasiatnya mungkin lebih baik dibandingkan obat dari bahan kimia. Oleh karena itu perlu kita ketahui tentang suatu ilmu yang mempelajari tentang cara-cara pengolahan baha- bahn alami tersebut menjadi suatu sediaan obat, yang kita kenal dengan ilmu galenika : Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan)
1.2 
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian ilmu galenika
2. mengetahui jenis-jenis sediaan galenika 
3. untuk mengetahui cara-cara penarikan simplisia
1.4 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud ilmu galenika ?
2. Apa saja jenis-jenis sediaan galenika ?
3. Bagaimanakah cara-cara penarikan simplisia ?
    
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian ilmu galenika
ilmu galenika adalah Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan). (ilmu resep)
Sediaan galenik adalah sediaan yang di buat dari bahan baku hewan atau tumbuhan yang di ambil sarinya. (Anonim,2011)
Zat-zat yang tersari (berkhasiat) biasanya terdapat dalam sel-sel bagian tumbuh-tumbuhan yang umumnya dalam keadaan kering.Cairan penyari masuk kedalam zat-zat berkhasiat utama dari pada simplisia yang akan di ambil sarinya,kemudian, zat berkhasiat tersebut akan terbawa larut dengan cairan penyari, setelah itu larutan yang mengandung zat berkhasiat dipisahkan dari bagian simplisia  lain yang kurang bermanfaat. (http://en.wikipedia.org)
Sediaan galenika yang menggunakan metoda khusus adalah seperti Infusum Hyoscyami Oleosum, Solutio Carbonis detergens atau Liquor Carbonatis detergens (Licadet). (anonim, 2010)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik
1.   Derajat kehalusan,Derajat kehalusan ini harus disesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat yang terkandung tersebut di sari.Semakin sukar di sari, simplisia harus dibuat semakin halus, dan sebaliknya.
2.   Konsentrasi / kepekatan, Beberapa obat yang terkandung atau aktif dalam sediaan tersebut harus jelas konsentrasinya agar kita tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan.
3.   Suhu dan lamanya waktu, Harus disesuaikan dengan sifat obat, mudah menguap atau tidak, mudah tersari atau tidak.
4.   Bahan penyari dan cara penyari, Cara ini harus disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia. (ilmu resep)
2.2 Bentuk-Bentuk Sediaan Galenik 
Bentuk-bentuk sediaan galenik :
1. Hasil Penarikan :  Extracta, Tinctura, Decocta / Infusa
2. Hasil Penyulingan/ pemerasan  : Aqua aromatika, olea velatilia (minyak menguap), olea pinguia (minyak lemak)
3.  Syrup. (ilmu resep, 2006)
Sediaan galenik dapat digolongkan berdasarkan cara pembuatanya sebagai berikut:
1.      Aqua aromatica
2.      Extracta 
3.      Sirupi dan 
4.      Spiritus aromatic. (anonim, 2010)
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Apa Itu Ilmu Galenika
Istilah galenika di ambil dari nama seorang tabib Yunani yaitu Claudius Galenos (GALEN) yang membuat sediaan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan, sehingga timbulah ilmu obat-obatan yang disebut ilmu galenika.
Jadi Ilmu Galenika adalah : Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan).
Tujuan dibuatnya sediaan galenik :
1. untuk memisahkan obat-obat yang terkandung dalam simplisia dari bagian  lain yang dianggap tidak bermanfaat.
2. membuat suatu sediaan yang sederhana dan mudah dipakai
3.  agar obat yang terkandung dalam sediaan tersebut stabil dalam penyimpanan yang lama.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik
1. Derajat kehalusan
Derajat kehalusan ini harus disesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat yang terkandung tersebut di sari.Semakin sukar di sari, simplisia harus dibuat semakin halus, dan sebaliknya.
2.  Konsentrasi / kepekatan
Beberapa obat yang terkandung atau aktif dalam sediaan tersebut harus jelas konsentrasinya agar kita tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan.
3. Suhu dan lamanya waktu
Harus disesuaikan dengan sifat obat, mudah menguap atau tidak, mudah tersari atau tidak.
4. Bahan penyari dan cara penyari
        Cara ini harus disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia.
3.2 Sediaan Galenika
Sediaan galenik adalah sediaan yang di buat dari bahan baku hewan atau tumbuhan yang di ambil sarinya.
Zat-zat yang tersari (berkhasiat) biasanya terdapat dalam sel-sel bagian tumbuh-tumbuhan yang umumnya dalam keadaan kering.Cairan penyari masuk kedalam zat-zat berkhasiat utama dari pada simplisia yang akan di ambil sarinya,kemudian, zat berkhasiat tersebut akan terbawa larut dengan cairan penyari, setelah itu larutan yang mengandung zat berkhasiat dipisahkan dari bagian simplisia  lain yang kurang bermanfaat.
Bentuk-bentuk sediaan galenik :
1. Hasil Penarikan :  Extracta, Tinctura, Decocta / Infusa
2. Hasil Penyulingan/ pemerasan  : Aqua aromatika, olea velatilia (minyak menguap), olea pinguia (minyak lemak)
3. Syrup.
Sediaan galenik dapat digolongkan berdasarkan cara pembuatanya sebagai berikut:
1.      Aqua aromatica
2.      Extracta 
3.      Sirupi dan 
4.      Spiritus aromatici
Sediaan galenika yang menggunakan metoda khusus adalah seperti Infusum Hyoscyami Oleosum, Solutio Carbonis detergens atau Liquor Carbonatis detergens (Licadet).
Tingtur (Tinctura)
Adalah  sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing – masing monografi. Kecuali dinyatakan lain, tingtur dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10 % untuk zat berkhasiat keras.
Jika dalam monografi tertera penetapan kadar, setelah diperoleh 80 bagian perkolat, tetapkan kadarnya. Atur kadar hingga memenuhi syarat, jika perlu encerkan dengan cairan penyari secukupnya. 
Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk. Sediaan tingtur harus jernih, untuk bahan dasar yang mengandung harsa digunakan cairan penyari etanol 90% dan pada umumnya cairan penyari adalah etanol 70%. Tingtur yang mengandung harsa / damar adalah Mira Tinctura, Asaefoetida Tinctura, Capsici Tinctura, Tingtur Menyan.
Pembagian Tinctur 
1.    Menurut Cara Pembuatan
A.  Tingtur Asli
Adalah tingtur yang dibuat secara maserasi atau perkolasi.
Contoh :
Tingtur yang dibuat secara maserasi 
1.
Opii Tinctura
FI III
2.
Valerianae Tinctura
FI III
3. 
Capsici Tinctura
FI II
4.
Myrrhae Tinctura
FI II
5.
Opii Aromatica Tinctura
FI III
6.
Polygalae Tinctura
Ext.  
FI1974
Tingtur yang dibuat secara perkolasi, contoh :
B.   Tingtur Tidak Asli (Palsu)
Adalah tingtur yang dibuat dengan jalan melarutkan bahan dasar atau bahan kimia dalam cairan pelarut tertentu.
1.
Iodii Tinctura
FI III
2.
Secalis Cornuti Tinctura
FI III
2.    Menurut Kekerasan (perbandingan bahan dasar dengan cairan penyari)
· Tingtur Keras, Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 10 % simplisia yang berkhasiat keras
· Tingtur Lemah, Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 20 % simplisia yang tidak berkhasiat keras. 
3.    Berdasarkan Cairan Penariknya
a. Tingtura Aetherea, jika cairan penariknya adalah aether atau campuran aether dengan aethanol. Contoh : Tingtura Valerianae Aetherea.
b. Tingtura Vinosa, jika cairan yang dipakai adalah campuran anggur  
     dengan aethanol. Contoh : Tinctura Rhei Vinosa (Vinum Rhei).
c. Tinctura Acida, jika ke dalam aethanol yang dipakai sebagai cairan 
       penarik ditambahkan suatu asam sulfat. Contoh : pada pembuatan Tinctura Acida     
d. Tinctura Aquosa, jika sebagai cairan penarik dipakai air, contoh : 
    Tinctura Rhei Aquosa.
e. Tinctura Composita
Ekstrak (Extracta)
Adalah sediaan kering, kental, atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. 
Cairan penyari yang dipakai  adalah air, eter dan campuran etanol dan air
Cara Pembuatan
Penyarian :
1. 
2. Penyarian simplisia dengan air dilakukan dengan cara maserasi, perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih.
3. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi.
4. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi.
1.   Maserasi
Lakukan maserasi menurut cara yang tertera pada tingtur, suling atau uapkan maserat pada tekanan rendah pada suhu tidak leih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki.
2.    Perkolasi
Lakukan perkolasi menurut cara yang tertera pada tinctura. Setelah perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam biarkan cairan menetes, tuangi massa dengan cairan penyari hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa. Perkolat disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki
· Pada pembuatan ekstrak cair 0,8 bagian perkolat pertama dipisahkan, perkolat selanjutnya diuapkan hingga 0,2 bagian campur dengan perkolat pertama.
· Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol dapat juga dilakukan dengan cara reperkolasi tanpa menggunakan panas.
· Ekstrak yang diperoleh dengan penyari air hangatkan segera pada suhu kurang lebih 90 0C, enapkan, serkai. Uapkan serkaian pada takanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga bobotnya sama dengan bobot simplisia yang digunakan.
· Enapkan di tempat sejuk selama 24 jam, serkai, uapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsentrasi yang dikehendaki.
· Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
· 
· Untuk ekstrak kering dan kental perkolat disuling atau diupkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki.
Contoh – Contoh Ekstrak
1.  Ekstrak Belladonae
Cara pembuatan : perkolasi 100 bagian serbuk belladon (85/100) dengan campuran etanol encer dan larutan dalam air asam asetat 2% v/v volume sama sehingga alkaloida tersari sempurna yang diperiksa dengan cara sebagai berikut :
Kocok kuat-kuat campuran 3 ml eter, 5 tetes amonia encer dan 2 ml perkolat. Uapkan 2 ml lapisan eter, larutkan sisa dalam 1 tetes H2SO4 encer, kemudian tambahkan 5 tetes air dan 1 tetes larutan kalium tetraiodida hidrargyrat (II) tidak terjadi kekeruhan. Suling etanol dengan perkolat, biarkan di tempat sejuk selama 24 jam. Tambahkan talk, saring, cuci sisa dengan 100 bagian air. Uapkan filtrat menurut cara yang tertera pada extracta hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak ini berkadar 1,3% alkaloida.
Penyimpanan : Ekstrak belladon dapat disimpan dalam persediaan dalam bentuk serbuk kering yang dibuat sebagai berikut :
Gerus 1 bagian ekstrak dengan 2 bagian pati beras atau laktosa, keringkan pada suhu tidak lebih dari 30 0C, tambahkan sejumlah pati beras atau laktosa hingga tepat 3 bagian. Sisa dalam wadah berisi zat pengering.
2.  Ekstrak Hiosiami (Hyosyami Extractum)
Cara pembuatan : sama dengan cara pembuatan Belladonae   Extractum yang dibuat dari serbuk hiosiamin
Ekstrak hiosiami kental disimpan dalam persediaan dalam bentuk serbuk yang dibuat sebagai berikut :
Gerus 1 bagian ekstrak dengan 2 bagian pati atau laktosa keringkan pada suhu tidak lebih dari 80 0C, tambahkan sejumlah pati atau laktosa kering hingga tapat 3 bagian. Simpan dalam wadah berisi zat pengering.
3.  Ekstrak Akar Manis (Glycyrrhizae Succus Extractum)
Cara pembuatan : penyarian dilakukan dengan air mendidih kemudian diuapkan hingga kering.
Infus (Infusa)
Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 0C selama 15 menit.
Cara Pembuatan
Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya, panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 0C sambil sekali-sekali di aduk. Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki.
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan   infus :
1. Jumlah simplisia
2. Derajat halus simplisia
3. Banyaknya ekstra air
4. Cara menyerkai
5. Penambahan bahan-bahan lain
· untuk menambah kelarutan
· untuk menambah kestabilan
· untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain.
1.  Jumlah Simplisia
Kecuali dinyatakan lain, infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras di buat dengan menggunakan 10 % simplisia.
Kecuali untuk simplisia seperti yang tertera di bawah ini, untuk membuat 100 bagian infus, digunakan sejumlah simplisia seperti tersebut di bawah ini :
 Banyaknya Air  Ekstra
Umumnya untuk membuat sediaan infus diperlukan penambahan air sebanyak 2 kali berat simplisia. Air ekstra  ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada umumnya dalam keadaan kering.
Cara  Menyerkai
1. Pada umumnya infus di serkai selagi panas, kecuali infus simplisia yang mengandung minyak atsiri, diserkai setelah dingin. Infus daun sena, infus asam jawa dan infus simplisia lainyangmengandung lendir tidak boleh diperas.
2. Untuk decocta Condurango diserkai dingin, karena zat berkhasiatnya larut dalam keadaan panas, akan mengendap dalam keadaan dingin.
3. Infus daun sena harus diserkai setelah dingin karena infus daun sena mengandung zat yang dapat menyebabkan sakit perut yang larut dalam air panas, tetapi tidak larut dalam air dingin.
4. Untuk asam jawa sebelum dibuat infus di buang bijinya dan diremas dengan air hingga massa seperti bubur.
5. Untuk buah adas manis dan buah adas harus dipecah dahulu.
6. Bila sediaan tidak disebutkan derajat kehalusannya, hendaknya diambil derajat kehalusan suatu bahan dasar yang keketalannya sama / sediaan galenik dengan bahan yang sama.
Air Aromatik (Aqua Aromatica) 
Adalah larutan jenuh minyak atsiri atau zat-zat yang beraroma dalam air. Diantara air aromatika, ada yang mempunyai daya terapi yang lemah, tetapi terutama digunakan untuk memberi aroma pada obat-obat atau sebagai pengawet.
Air aromatika harus mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal, bebas bau empirematic atau bau lain, tidak berwarna dan tidak berlendir.
Cara pembuatan :
1.  larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam masing-masing monografi dalam 60 ml etanol 95%.
2.  tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml sambil dikocok kuat-kuat.
3.  tambahkan 500 mg talc, kocok, diamkan, saring.
4.  encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air.
Etanol disini berguna untuk menambah kelarutan minyak atsiri dalam air. Talc berguna untuk membantu terdistribusinya minyak dalam air dan menyempurnakan pengendapan kotoran sehingga aqua aromatik yang dihasilkan jernih.
Selain cara melarutkan seperti yang tertera dalam FI II, buku lain juga mencantumkan aqua aromatik adalah hasil samping dari pembuatan olea volatilia secara penyulingan sesudah diambil minyak atsirinya.
Aqua aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat dicegah pembusukannya dengan cara mendidihkan dalam wadah tertutup rapat yang tidak terisi penuh di atas penangas air selama 1 jam.
Pemerian aqua aromatika : cairan jernih, atau agak keruh, bau dan rasa tidak boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal.
Syarat untuk resep : jika air aromatik keruh, kocok kuat-kuat sebelum digunakan.
Penyimpanan : dalam wadah terttutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk.
Khasiat : zat tambahan.
Air aromatika yang tertera dalam FI II ada 3 yaitu :
1. Aqua Foeniculi, adalah larutan jenuh minyak adas dalam air. Aqua foeniculi dibuat  dengan melarutkan 4 g oleum foeniculi  dalam 60 ml etanol 90%, tambahkan air sampai 100 ml sambil dikocok kuat-kuat, tambahkan 500 mg talc, kocok, diamkan, saring. Encerkan 1 bagian filtrat dalam 39 bagian air.
Pemerian, penyimpanan sama seperti aqua aromatik. Syarat untuk resep : seperti aqua aromatik dan sebelum digunakan harus disaring lebih dahulu.
2. Aqua Menthae Piperitae = air permen, adalah larutan jenuh minyak permen dalam air. 
Cara pembuatan : lakukan pembuatan menurut cara yang tertera pada aqua aromatika dengan menggunakan 2 g minyak permen.
Pemerian, penyimpanan dan syarat untuk resep sama seperti aqua aromatik.
3. Aqua Rosae = air mawar, adalah larutan jenuh minyak mawar dalam air. Cara pembuatan : larutkan 1 g minyak mawar dalam 20 ml etanol, saring. Pada filtrat tambahkan air secukupnya hingga 5000 ml, saring.
Pemerian, penyimpanan dan syarat untuk resep sama seperti aqua aromatika.
Minyak Lemak (Olea Pinguia)
Adalah campuran senyawa asam lemak bersuku tinggi dengan gliserin (gliserida asam lemak bersuku tinggi).
Cara-cara mendapatkan minyak lemak 
1.   diperas pada suhu biasa, misalnya : oleum arachidis, oleum olivae, oleum ricini
2.   diperas pada suhu panas, misalnya : oleum cacao, oleum cocos
Syarat-syarat untuk minyak lemak antara lain :
1.    harus jernih, yang cair harus jernih, begitupun yang padat sesudah dihangatkan (diatas suhu leburnya) tidak boleh berbau tengik.
2.    kecuali dinyatakan lain harus larut dalam segala perbandingan dalam CHCl3, Eter dan Eter minyak tanah.
3.   Harus memenuhi syarat-syarat minyak mineral, minyak harsa dan minyak-minyak asing lainnya, senyawa belerang dan logam berat.
Penyimpanan minyak lemak :
Kecuali dinyatakan lain, harus disimpan dalam wadah tertutup baik, terisi penuh, terlindung dari cahaya.
Contoh-contoh minyak lemak :
1.    Minyak kacang = Oleum Arachidis 
Adalah minyak lemak yang telah dimurnikan, diperoleh dengan pemerasan biji arachidis hypogeae L yang telah dikupas.
2.    Minyak coklat = Oleum Cacao
Adalah lemak padat yang diperoleh dengan pemerasan panas biji Theobroma cacao L yang telah dikupas dan dipanggang.
3.    Minyak kelapa = Oleum Cocos.
Adalah minyak lemak yang di peroleh dengan pemerasan panas endosperm cocos nucipera L yang telah di keringkan. 
Minyak Atsiri (Olea Volatilia)
Minyak atsiri disebut juga minyak menguap atau minyak terbang. Olea Volatilia adalah campuran bahan-bahan berbau keras yang menguap, yang diperoleh baik dengan cara penyulingan atau perasan simplisia segar maupun secara sintetis. Minyak atsiri diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. Contoh : daun, bunga, kulit buah, buah atau dibuat secara sintetis.
Sifat-sifat minyak atsiri :
1.    mudah menguap
2.    rasa yang tajam
3.    wangi yang khas
4.    tidak larut dalam air, larut dalam pelarut organik.
5.    minyak atsiri yang segar tidak berwarna, sedikit kuning muda.
Warna coklat, hijau ataupun biru, disebabkan adanya zat-zat asing dalam minyak atsiri tersebut. Misalnya : Minyak kayu putih (Oleum Cajuputi) yang murni tidak berwarna. Warna hijau yang ada seperti yang terlihat diperdagangan karena adanya : klorophyl dan spora-spora Cu (tembaga). Warna kuning atau kuning coklat terjadi karena adanya penguraian. 
Pemerian : 
1. Cairan jernih
2. Bau seperti bau bagian tanaman asal.
3. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terisi penuh, terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk.
Identifikasi :
1. 
2. teteskan 1 tetes minyak di atas air, permukaan air tidak keruh.
3. pada sepotong kertas teteskan 1 tetes minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan uap tidak terjadi noda transparan
4. kocok sejumlah minyak dengan larutan NaCl jenuh volume sama, biarkan memisah, volume air tidak boleh bertambah.
Cara-cara memperoleh minyak atsiri :
A.    Cara pemerasan yaitu cara yang termudah dan masih dapat dikatakan primitif. Cara ini hanya dapat dipakai untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan. Contoh : minyak jeruk
B.       Cara penyulingan ( destilasi).
1. Cara langsung ( menggunakan api langsung)
Bahan yang akan diolah di masukkan ke dalam sebuah bejana di atas pelat yang berlubang dan bejana berisi air. Uap air yang naik melalui lubang dan melalui sebuah pendingin, kemudian minyak yang keluar dengan uap air di tampung. Cara ini hanya dapat digunakan untuk jumlah bahan bakal yang sedikit, karena jumlah air yang akan menjadi uap dan membawa serta minyak terbatas jumlahnya.
2. Cara tidak langsung ( destilasi uap)
Bahan yang akan di olah di masukkan ke dalam sebuah bejana dan di tambah dengan air. Alirkan ke dalamnya uap air yang berasal dari bejana lain. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dalam jumlah yang besar terutama bahan bakal yang mempunyai kadar minyak atsiri yang rendah.
Dari ke dua cara di atas pada bejana penampungan akan terdapat dua lapisan, yaitu air dan minyak atsiri.
Letak minyak atsiri dan air tergantung pada berat jenisnya. Jika Bj minyak atsiri > Bj air maka minyak atsiri berada di bawah dan sebaliknya.
Ke dua lapisan ini dapat dipisahkan dan setelah dipisahkan sisa air dapat di keringkan dengan menggunakan zat - zat pengering, contoh: Na2SO4 exicatus.
Pengeringan sisa air ini perlu di lakukan sebab dengan adanya sisa air tersebut minyak atsiri  cepat rusak / menjadi tengik. Bila lapisan minyak atsiri dan air sukar dipisahkan dapat di tambahkan NaCl jenuh untuk menarik airnya
3. Cara Enfleurage
Biasanya untuk minyak atsiri yang berasal dari daun bunga yang digunakan untuk kosmetik. Daun bunga disebarkan diatas keping gelas yang lebih dulu dilapisi dengan lemak atau gemuk. Dibiarkan beberapa lama, tergantung dari jenis daun yang diolah, contoh:bunga melati 24 jam. Kemudian daun bunga diangkat, diganti dengan yang segar sampai beberapa kali, sampai lemak itu benar-benar jenuh dengan minyak atsiri. Biasanya lemak itu dapat digunakan untuk 30 kali.
Kemudian lapisan lemak dikerok, dilarutkan dalam alkohol absolut, minyak atsiri akan larut, sedangkan lemaknya tidak larut, sehingga lemaknya dapat dipisahkan dari minyak atsiri. Minyak atsiri yang ada dalam alkohol disuling secara vacum (dengan alat evaporator vacum ). Alkohol yang digunakan bukan alkohol fortior sebab waktu diuapkan, uap air akan membawa minyak atsiri. 
Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dengan kandungan minyak atsiri yang rendah dan tidak tahan pemanasan.
Contoh-contoh minyak atsiri :
1. Oleum foeniculi (minyak adas)
Cara pembuatan : 
Penyulingan uap buah masak Foeniculum vulgaris Mill varietas a vulgare dan b-dulce.
2. Oleum Anisi (minyak adas manis)
Cara pembuatan :
Penyulingan uap buah kering Illicium verum Hook dan buah kering Pimpenilla anisum L (fam : Magnoliaceae)
3. Oleum Caryophylli (minyak cengkeh)
Cara pembuatan :
Penyulingan pucuk berbunga yang telah dikeringkan dari tanaman Eugenia caryophyllata
Syrup (Sirupi) 
Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Kadar sakarosa (C12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%.
Cara pembuatan sirup :
Buat cairan untuk sirup, panaskan, tambahkan gula, jika perlu didihkan hingga larut. Tambahkan air mendidih secukupnya  hingga diperoleh bobot yang dikehendaki, buang busa yang terjadi, serkai.
Cairan untuk sirup, kedalam mana gulanya akan dilarutkan dapat dibuat dari :
1. aqua destilata : untuk sirupus simplex.
2. hasil-hasil penarikan dari bahan dasar :
3. maserat misalnya sirupus Rhei
4. perkolat misalnya sirupus Cinnamomi
5. colatura misalnya sirupus Senae
6. sari buah misalnya rubi idaei
7. larutan atau campuran larutan bahan obat misalnya : methydilazina hydrochloridi sirupus, sirup-sirup dengan nama patent misalnya yang mengandung campuran vitamin .
8. Pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon di tambahkan Na2CO3 sejumlah 10% bobot simplisia
9. Kecuali dinyatakan lain, pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben 0,25 %  b/v atau pengawet lain yang cocok.
10. 
11. Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66 % sakarosa, bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan, tetapi bila lebih rendah dari 62 % sirup akan membusuk.
Bj sirup kira-kira 1,3
12. Pada penyimpanan dapat terjadi inversi dari sakarosa ( pecah menjadi glukosa dan fruktosa ) dan bila sirup yang bereaksi asam inversi dapat terjadi lebih cepat.
13. Pemanasan sebaiknya dihindari karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert.
14. Gula invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sakarosa yang memutar bidang polarisasi kekiri.
15. Gula invert tidak dikehendaki dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan berwarna tua ( terbentuk karamel ), tetapi mencegah terjadinya oksidasi dari bahan obat. 
16. Pada sirup yang mengandung sakarosa 62 % atau lebih, sirup tidak dapat ditumbuhi jamur, meskipun jamur tidak mati.
17. Bila kadar sakarosa turun karena inversi, maka jamur dapat tumbuh. Bila dalam resep, sirup diencerkan dengan air dapat pula ditumbuhi jamur.
18. Untuk mencegah sirup tidak menjadi busuk, dapat ditambahkan bahan pengawet.
19. Kadang-kadang gula invert dikehendaki adanya misalnya dalam pembuatan sirupus Iodeti ferrosi. Hal ini disebabkan karena sirup merupakan media yang mereduksi, mencegah bentuk ferro menjadi bentuk ferri.
20. Gula invert disini dipercepat pembuatannya dengan memanaskan larutan gula dengan asam sitrat.
Bila cairan hasil sarian mengandung zat yang mudah menguap maka sakarosa  dilarutkan dengan pemanasan lemah dan dalam botol yang tertutup, seperti pada pembuatan Thymi sirupus dan Thymi compositus sirupus, aurantii corticis sirupus. Untuk cinnamomi sirupus sakarosa dilarutkan tanpa pemanasan.
Maksud menyerkai pada sirup adalah untuk memperoleh sirup yang jernih.
Ada beberapa cara menjernihkan sirup :
1. Menambahkan kocokan zat putih telur segar pada sirup . Didihkan sambil 
diaduk, zat putih telur akan menggumpal karena panas.
2. Menambahkan bubur kertas saring lalu didihkan dan saring kotoran sirup akan melekat ke kertas saring..
3.3 Penarikan (Extraction) 
Extractio adalah cara menarik satu atau lebih zat-zat dari bahan asal yang umumnya zat berkhasiat tersebut tertarik dalam keadaan (khasiatnya) tidak berubah.
Istilah extractio hanya dipergunakan untuk penarikan zat-zat dari bahan asal dengan menggunakan cairan penarik/ pelarut. Cairan penarik yang dipergunakan disebut menstrum, ampasnya disebut marc atau faeces. Cairan yang dipisahkan disebut Macerate Liquid, Colatura, Solution, Perkolat.
Umumnya extractio dikerjakan untuk simplisia yang mengandung zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu.. Zat-zat berkhasiat tersebut antara lain alkaloida, glukosida, damar, olea, resina, minyak atsiri, lemak. Disamping itu terdapat juga jenis-jenis gula, zat pati, zat lendir, albumin, protein, pectin, selulosa yang pada umumnya mempunyai daya larut dalam cairan pelarut tertentu dimana sifat-sifat kelarutan ini dimanfaatkan dalam extractio.
Tujuan utama extractio adalah :untuk mendapatkan zat-zat berkhasiat pengobatan sebanyak mungkin dari zat-zat yang tidak berfaedah, supaya lebih mudah digunakan dari pada simplisia asal. Begitu juga penyimpanan dan tujuan pengobatannya terjamin sebab pada umumnya simplisia terdapat dalam keadaan tercampur yang memerlukan cara-cara penarikan dan cairan-cairan penarik tertentu yang nantinya akan menghasilkan sediaan galenik sesuai dengan pengolahannya.
Suhu penarikan juga sangat mempengaruhi hasil penarikan, suhu penarikan untuk :
Maserasi :  15 – 25 0C
Digerasi :  35 – 45 0C
Infundasi :  90 – 98 0C
Memasak :  suhu mendidih
Dalam beberapa hal sebelum sediaan yang dimaksud dibuat, simplisia perlu diolah terlebih dahulu, Misalnya mengawal lemakkannya seperti: Strychni, Secale cornuti; atau menghilangkan zat pahitnya seperti : Lichen islandicus. 
Supaya zat-zat yang tidak berguna / merusak tidak ikut tertarik bersama-sama dengan zat-zat yang berkhasiat.
Cara menghilangkan isi simplisia yang tidak berguna :
1. Dengan memakai bahan pelarut yang tepat dimana bahan berkhasiatnya mudah larut, sedangkan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut dalam cairan penyari tersebut.
2. Dengan menarik / merendam pada suhu tertentu dimana bahan berkhasiat terbanyak larutnya.
3. Dengan menggunakan jarak waktu menarik yang tertentu dimana bahan berkhasiat dari sipmlisia lebih banyak larutnya, sedangkan bahan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut.
4. Dengan memurnikan / membersihkan memakai cara-cara tertentu baik secara ilmu alam maupun ilmu kimia. 
Jadi kesimpulan dalam extractio ini adalah memilih salah satu cara penarikan yang tepat dengan cairan yang pantas dan memisahkan ampas dengan hasil penarikan yang akan menghasilkan sebuah preparat galenik yang dikehendaki.
Simplisia yang dipergunakan umumnya sudah dikeringkan, kadang-kadang juga yang segar. Untuk kemudahan simplisia yang kering ini dilembabkan terlebih dahulu / di maserer dalam batas waktu tertentu. Disamping itu simplisia ini ditentukan derajat halusnya untuk memperbesar atau memperluas permukaannya, sehingga menyebabkan proses difusi dari zat-zat berkhasiat lebih cepat dari pada melalui dinding-dinding sel yang utuh (proses osmose).
Cara – Cara Penarikan
1. Maserasi
Adalah cara penarikan sari dari  simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa yaitu pada suhunya 15-25 0C. Maserasi juga merupakan proses pendahuluan untuk pembuatan secara perkolasi.
2. Digerasi
Cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia dengan cairan penyari pada suhu 35o – 45o. Cara ini sekarang sudah jarang dilakukan karena disamping membutuhkan alat-alat tertentu juga pada suhu tersebut beberapa simplisia menjadi rusak.
3. Perkolasi
Perkolasi ialah suatu cara penarikan, memakai alat yang disebut perkolator, yang simplisianya terendam dalam cairan penyari dimana zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan.
Cara-cara perkolasi :
1. perkolasi biasa
2. perkolasi bertingkat, reperkolasi, fractional percolation
3. perkolasi dengan tekanan, pressure percolation
4. perkolasi persambungan, continous extraction, memakai    alat soxhlet.
Hal-hal yang harus mendapat perhatian pada perkolasi ialah :
1. mempersiapkan simplisianya :   derajat halusnya.
2. melembabkan dengan cara penyari :   maserasi I
3. jenis perkolator yang dipergunakan dan memper-siapkannya
4. cara memasukkannya ke dalam perkolator dan lamanya di maserer dalam perkolator :   maserasi II
5. pengaturan penetapan cairan keluar dalam jangka waktu yang ditetapkan.
A. Perkolasi Biasa
Simplisia yang telah ditentukan derajat halusnya direndam dengan cairan penyari, masukkan kedalam perkolator dan diperkolasi sampai didapat perkolat tertentu. Untuk pembuatan tingtur disari sampai diperoleh bagian tertentu, untuk ekstrak cair disari sampai tersari sempurna. Perkolasi umumnya digunakan untuk pengambilan sari zat-zat yang berkhasiat keras.
B. Perkolasi Bertingkat / Reperkolasi 
Reperkolasi adalah suatu cara perkolasi biasa, tetapi dipakai beberapa perkolator. Dengan sendirinya simplisia di bagi-bagi dalam beberapa porsi dan ditarik tersendiri dalam tiap perkolator. Biasanya simplisia dibagi dalam tiga bagian dalam tiga perkolator, perkolat-perkolat dari tiap perkolator diambil dalam jumlah yang sudah ditetapkan dan nantinya  dipergunakan sebagai cairan penyari untuk perkolasi berikutnya pada perkolator yang kedua dan ketiga.
Cara Kerjanya : 
1. Isi perkolator pertama–tama  dilembabkan, dan ditarik seperti cara memperkoler biasa, tetapi perkolatnya ditentukan dalam beberapa bagian dan jumlah volume tertentu, misalnya : 200 cc, 300 cc, 300 cc, 300 cc, 300 cc, 300 cc bagian yang pertama perkolat A (200 cc) adalah sebagian sediaan yang diminta dan perkolat selanjutnya disebut susulan pertama.
2. Perkolator kedua dilembabkan simplisianya dengan perkolat A (susulan pertama), akan diperoleh perkolat-perkolat dalam jumlah-jumlah dan volume tertentu, dengan catatan perkolat ini nantinya terdapat 300 cc, 200 cc, 200 cc, 200 cc, 200 cc, 200 cc, bagian pertama perkolat (300 cc) adalah sebagian dari sediaan.
3. Perkolator ketiga diolah seperti kedua, dengan perkolator B bagian kedua 200 cc dan seterusnya sampai terdapat nantinya sebanyak 500 cc, terlihat disini bahwa perkolat A bagian pertama, lebih kecil volumenya dari perkolat B 
4. bagian pertama, tetapi sebaliknya perkolat A bagian-bagian berikutnya lebih besar volumenya dari perkolat-perkolat B. Hasilnya ialah:
- perkolat A pertama  200 cc
- perkolat B pertama 300 cc     jumlah 1000 cc
- perkolat C pertama 500 cc
Keuntungan pertama pada reperkolasi ialah preparat yang terdapat dalam bentuk pekat  dan berarti penghematan menstrum. Tetapi reperkolasi ini tidak dapat dipergunakan untuk ekstraksi sampai habis. Secara resmi reperkolasi dipergunakan hanya untuk pembuatan ekstrak-ekstrak cair yang simplisianya mengandung zat berkhasiat yang tidak tahan atau rusak oleh pemanasan.
BAB 1V
PENUTUP
4.1 Kesimpulan 
Ilmu Galenika adalah : Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan.
Bentuk-bentuk sediaan galenik :
1.  Hasil Penarikan : Extracta, Tinctura, Decocta / Infusa
2.  Hasil Penyulingan/ pemerasan  : Aqua aromatika, olea velatilia (minyak menguap), olea pinguia (minyak lemak).
3.  Syrup.
cara-cara penarikan simplisia
1. Maserasi
2.  Digerasi
3. perkolasi
4.2 Saran
Hendaknya dalam membuat sediaan galenik kita bekerja secara serius dan hati-hati.
DAFTAR PUSTAKA
“Sediaan Galenik”, Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan RI,1986.
 Farmakope Edisi III Departemen Kesehatan RI tahun 1995. Syamsuni, A. 2006. “Ilmu Resep”. Jakarta : EGC Farmakope Edisi IV Departemen Kesehatan RI http://en.wikipedia.org.
Anonim. 2011. Penggolongan Sediaan Galenika.